PesonaRamadan2018 : menghitung getek bawah ampera

by - September 18, 2018







PesonaRamadan2018
perahu speedboat. sumber: pribadi

“Menghitung getek?”, ya menghitung getek itulah yang saya lakukan untuk sekedar ngabuburit sambil menunggu bedug maghrib tanda waktu berbuka puasa telah tiba. Tahukah Anda Apa itu getek? Getek adalah sebutan untuk perahu bermesin tempel di kota palembang.
Sebenarnya ada beberapa jenis perahu yang berlalu-lalang di sungai musi, ada kapal cepat (orang palembang biasa menyebutnya speed) yang biasa mengangkut orang untuk jarak yang lebih jauh dari getek, ada kapal kayu yang ukurannya cukup besar yang disebut perahu jukung (biasa digunakan untuk transportasi perdagangan), ada kapal tunda untuk menarik tongkang batubara, dan ada getek yang biasa digunakan untuk mengangkut penumpang untuk jarak yang tidak begitu jauh.


PesonaRamadan2018
perahu jukung. sumber: pribadi

Menurut Kamus  Besar Bahasa Indonesia (KBBI) getek artinya rakit, mungkin saja dahulunya getek ini memang benar-benar rakit, namun seiring perkembangan zaman, rakit yang biasa terbuat dari buluh yang diikat berjajar berubah bentuk menjadi perahu bermesin tempel, namun karena budaya, jadilah perahu bermesin tempel itu tetap dinamakan masyarakat palembang dengan getek.


PesonaRamadan2018
naik getek. sumber: pribadi

Dermaga getek ini sebenarnya ada banyak di sepanjang aliran sungai musi, bahkan bisa dikatakan hampir setiap lokasi di sepanjang aliran sungai musi ini ada dermaga-dermaga kecil tempat bersandarnya getek, namun karena di wilayah sekitar Jembatan Ampera terdapat pasar-pasar, yakni pasar 16 ilir di wilayah seberang ilir dan pasar 10 ulu dan pasar 7 ulu di wilayah Seberang Ulu, sehingga ada banyak getek yang bersandar dibawah Jembatan Ampera.

PesonaRamadan2018
kampung al-munawar. sumber: pribadi
Mungkin Anda bertanya, Berapakah ongkos perjalanan sekali naik getek? Ongkos sekali perjalanan naik getek adalah tergantung siapa yang naik getek disamping jarak tempuh perjalanan Anda. Mengapa demikian? Jika Anda ingin naik getek dan Anda menggunakan Bahasa Indonesia, kemungkinan harganya akan lebih mahal, sebab orang disini tahu Anda bukan berasal dari palembang, lain halnya jika Anda menggunakan Bahasa Palembang, ongkosnya biasanya standar harga yang biasa sopir getek tetapkan untuk orang palembang. Saya dan rekan pernah naik getek dari Kampung Al-munawar (Kampung Arab) di wilayah Kelurahan 14 Ulu menuju Pasar Baba Boentjit (merupakan tempat wisata rumah tua saudagar cina tempo dulu yang baru dijadikan tempat wisata jika dibandingkan Kampung Arab) di wilayah Kelurahan 3-4 Ulu, kami dikenakan tarif Rp 10.000,- per orang untuk sekali berangkat. Temanku saat itu menawar dengan Bahasa Palembang nya yang kental, dialognya kurang lebih seperti berikut:
Temanku: “Mang, pacak dak anterke kami ke Pasar Baba Boentjit?”
Sopir Getek: “Payo, Berapo wong?”
Temanku: “Betigo mang!”
Sopir getek: “sikok wong tenga duo”
Temanku: “Ay, mahal nian, idak kurang apo mang?”
Sopir getek: “Nak Berapo?”
Temanku: “sepoloh  bae mang sikok wong!”
Sopir Getek: “Yo sudah, naeklah!”
Itulah sepenggal Bahasa Palembang yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah pada awalnya sopir getek meminta harga Rp 15.000,- per orang kemudian ditawar menjadi Rp 10.000,- per orang untuk sekali perjalanan dari Kampung Al-Munawar menuju Pasar Baba Boentjit. Mungkin harga diatas akan berubah jika Anda menawar dengan Bahasa Indonesia, bisa saja ongkosnya naik dua kali lipat. 


PesonaRamadan2018
pasar baba boentjit. sumber: pribadi

Kembali ke topik awal, menghitung getek. Menurut saya, jumlah getek yang melintas dibawah Jembatan Ampera saat ini hanya tersisa puluhan getek, tidak terlalu banyak. Tidak seperti dahulu saat getek masih digunakan sebagai transportasi utama untuk menyebrang dari Seberang Ulu menuju Seberang Ilir begitu sebaliknya. Maklum saja, zaman sudah berubah, kendaraan bermotor seperti motor dan mobil sudah sangat mudah didapatkan. Hanya dengan Uang Muka ratusan ribu, Anda sudah bisa membawa pulang sepeda motor impian Anda. Efek negatif dari kemudahan ini jugalah yang menyebabkan Palembang kota tercinta ini sekarang sudah akrab dengan kemacetan terutama diatas Jembatan Ampera. Perlu digaris bawahi, Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang ini sudah berusia tua, jembatan yang diresmikan pada tanggal 30 September 1965 oleh pahlawan revolusi Ahmad Yani ini pada tahun 2018 tepat berusia 53 tahun, usia yang sudah tua untuk sebuah jembatan. Sudah saatnya jembatan ini dipensiunkan dan dijadikan tempat wisata saja, bukan dijadikan jalan umum lagi seperti saat ini. Sedih jika suatu saat jembatan ini sudah tidak kuat menahan beban, ada banyak sopir getek yang sekarang penghasilannya tidak besar seperti dulu lagi bisa menjadi korbannya.


PesonaRamadan2018
perahu getek. sumber: pribadi

Pesan saya, jika Anda naik getek, tidak mengapa menggunakan Bahasa Indonesia saja, Mari kita saling membantu Saudara kita di bulan ramadhan ini!, jika sopir getek menawarkan harga tinggi, iyakan saja! Hitung saja itu sebagai sedekah kita di bulan ramadhan yang penuh berkah ini.

   

You May Also Like

0 komentar